Sabtu, 15 Agustus 2015



MATERI PRILAKU MENYIMPANG

 Setiap kelompok masyarakat menginginkan adanya perilaku yang teratur dan sesuai dengan para anggotanya supaya terciptanya keteraturan dan  keamanan masyarakat. Keteraturan masyaraka dihasilkan dari proses sosialisasi  sehingga penyesuaian diri merupakan  bentuk interaksi sosial agarperilaku seseorang  terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompoknya  sehinga mengasilkan kepribadian yang konformity atau ketaatan, kesetiaan . Dengan demikian bahwa konformitas adalah perilaku seseorang yang patuh, taat terhadap nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Kepatuhan ini menunjukan kesesuaian antara perilaku dan nilai dan norma dalam masyarakat. Jika perilaku yang terjadi tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat maka terjadi suatu penyimpangan. Perilaku menyimpang hasil dari sosialisasi yang tidak sempurna dan juga karena belajar menyimpang dari nilai dan norma dalam  kelompok sub kebudayaan menyimpang , sehingga menghasilkan kepribadian non konformitas.

Pengertian:
        Penyimpangan sosial dengan istilah lain social deviation yaitu perilaku yang menyimpang dari norma
         yang berlaku dalam masyarakat.
        Ada beberapa devinisi penyimpangan sosial menurut para ahli.
a.      L a m e r t :Membedakan perilaku menyimpang menjadi penyimpangan primer  (bersifat
Temporer ) dan penyimpangan sekunder (bersifat berulang-ulang)
b.      Robert M.Z.Lawang: Perilaku menyimpang adalah suatu tindakan menyimpang dari norma-norma
      yang berlaku dalam suatu sistem sosial.
c.       Bruce J.Kohen: Perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat.
d.      Paul B. Horton : Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.
Dari devinisi – devinisi diatas dapat disimpulkan bahwa Perilaku menyimpang adalah perilaku  yang  bertentangan atau perilaku yang  tidak sesuai dengan nilai dan norma didalam masyarakat.
    
 A. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU  MENYIMPANG
     Dalam mengidentifikasi perilaku menyimpang, pada dasarnya dapat dikelompokkan atas dua yaitu
     faktor internal dan faktor eksternal.

1.      Internal : Faktor  internal  adalah faktor yang berasal  dari dalam diri seseorang. Faktor-faktor  tersebut
       adalah inteligensi, kondisi fisik, kodisi psykis, kepribadian,  usia,  jenis kelamin dan  kedudukan seseo
       rang dalam  keluarga.

a.  Faktor inteligensi. Setiap  orang  memiliki  inteligensi  yang  berbeda .Ada  yang cerdasdan  yang  kurang   cerdas.  Pada    umumnya   orang   yang  cerdas   lebih  cepat  berinterkasi  dan  bersosialisasi    terhadap   nilai    dan  norma   didalam    masyarakat,  sedangkan   yangkurang  cerdas atau lemah agak   lamban   inteligensinya   dalam   berinteraksi.  Baik  yang cerdas  maupun    kurang  cerdas  sama-sama  mempunyai  potensi  perilaku menyimpang. Misalnya orang  cerdas  biasanya  suka  meremehkan  orang   lain,  egoisme  yang  tinggi , sedangkan orang   yang  kurang  cerdas  suka  mengisolasi diri,tidak percaya diri sehingga   menunjukkan perilaku yang  canggung  dalam  pergaulan  didalam masyarakat.

b.  Kondisi fisik:
     Seorang tokoh kriminologi C. Lambroso ( Dalam buku Soerjono Soekanto  ”Kriminologi Suatu Pengantar” (1981:254)) , melihat tanda-tanda fisik seseorang dapat dikenal apakah sesorang itu  orang baik atau orang jahat seperti  tulang rahang dan pipi yang panjang. Menurut antropologi, orang jahat itu dilihat dari tengkoraknya seperti tulang dahi melengkung kebawah. Terlepas dari tanda-tanda tertentu diatas, perilaku menyimpang bisa juga terdapat pada orang-orang yang fisiknya cacat seperti , tuna rungu, tuna wicara, tuna netra, atau cacat fisik lainnya  apabila tidak punya percaya diri akan cendrung merasa minder dan malu untuk  bergaul. Sebaliknya orang mempunyai postur tubuh bagus, ganteng dan cantik  sering / terkadang mengkomersilkan tubuhnya sampai menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial).


           c.  Kondisi psykis.
                  Kejiwaan   seseorang   yang   sedang   mengalami   keguncangan   akan  mempengaruhi  perilaku nya.
           Contohnya  orang  yang  jiwanya sedang  gundah , tentu tidak akan memusatkan perhatian terhadap   suatu  
           masalah,  mudah  tersinggung  dan  capat  marah, tidak  dapat membedakan  mana  yang  baik  dan mana  
           yang  buruk.  Sehingga mudah  sekali  melakukan penyimpangan.  Sebaliknya  kondisi  jiwa bagi orang
           yang  periang tentu  lebih  konsentrasi,  tidak cepat tersinggung  dan  tidak cepat  marah. Disamping  itu  
           menurut Sigmund  Freud,  dengan   teorinya yang  disebut   teori  Freud,  membagi   diri manusia atas
           tiga bagian yaitu:
     1. Id,  adalah bagian  diri yang  bersifat  tidak   sadar , naluriah  dan   impulsif  ( mudah    
         terpengaruh  oleh gerak hati )
     2. Ego,  adalah  bagian  diri  yang  bersifat  sadar dan  rasional  (penjaga pintu kesadaran).
     3. Superego, adalah bagian diri yang telah menyerap nilai - nilai kultural   dan   berfungsi  sebagai
          suara hati.
            Menurut Freud  perilaku  menyimpang  terjadi apabila id  yang berkelebihan  (tidak terkontrol)   muncul  
            bersamaan  dengan  superego yang  tidak aktif , sementara  waktu  yang tidak sama  ego   yang
            seharusnya dominan tidak berhasil memberikan pertimbangan

           d.  Kepribadian.
        Menurut Koentjaraningat (1990:120) Kepribadian atau personaliti adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan seorang individu. Dalam bahasa populer, kepribadian adalah  ciri-ciri watak seseorang yang konsisten memberikan kepadanya  suatu identitas sebagai  individu yang kusus. Salah satu unsur kepribadian adalah dorongan psykologi yang bernilai negatif. Wujutnya berupa, ketegangan yang sangat tinggi, kebencian, altruisme ekstrim(Paham yang mementingkan atau mengutamakan kepentingan orang lain.), egoisme ekstrim (paham yang mementingkan diri sendiri),  penghinaan terhadap sesama, tidak percaya pada diri sendiri. Mereka yang mengalami seperti ini dapat melakukan perilaku menyimpang, sebab mereka tidat membedakan hal yang baik dan buruk.

           e.   Usia.
            Bertambahnya usia/umur berpengaruh dalam pembentukan pola pikir dan tingkahlaku  seseorang.
   Semakin tua seseorang semakin pikun yang cendrung cepat lupa juga cepat  tersinggung. Hal ini
   menyebabkan orang yang usianya semakin tua akan cendrung melakukan  penyimpangan.

           f.   Jenis kelamin.
    Jenis kelamin yang berbeda dalam keluarga dapat mempengaruhi perilaku  menyimpang.  Misaslnya ,   
   dalam keluarga  ada enam anak  laki-laki dan hanya satu orang anak perempuan. Hal ini menyebabkan   
   perilakunya menjadi  seperti laki-laki, atau menjadi bersikap manja dan ingin selalu  mendapat perhatian 
   lebih dari orangtuanya dan dari kakak-kakaknya.

           g.   Kedudukan seseorang dalam keluarga.
    Kedudukan sesorang dalam keluarga dapat mendorong penyimpan. Misalnya anapertama   merasa
           paling berkuasa dan lebih suka mengatur adik-adiknya, sebaliknya anak bungsu lebih  suka  dimanja. Dan
           jika anak tunggal selalu harus mendapatkan apa yang  diinginkan. Ketika  tidak  dipenuhi
           kemungkinan  terbentuk perilaku menyimpang.